Beranda » Catatan Dekan » Mengisi Kemerdekaan dengan Karya dan Pengabdian

Mengisi Kemerdekaan dengan Karya dan Pengabdian

Oleh: Muwafiqus Shobri, M.Pd.I.
Dekan Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean

Kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana bangsa ini terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga merupakan amanah untuk menentukan masa depan dengan tangan sendiri.

Setiap bulan Agustus kita memperingati kemerdekaan Indonesia. Kita memasang bendera, mengikuti berbagai kegiatan, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mengenang jasa para pahlawan. Semua itu penting.

Tetapi bagi perguruan tinggi, khususnya Fakultas Tarbiyah, ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Setelah Indonesia merdeka selama puluhan tahun, apa yang harus kita lakukan sebagai insan pendidikan untuk benar-benar mengisi kemerdekaan?

Menurut saya, jawabannya bukan sekadar memperbanyak kegiatan seremonial.

Kemerdekaan harus diisi dengan karya, ilmu, integritas, inovasi, dan kebermanfaatan.

Fakultas Tarbiyah Harus Menjadi Bagian dari Perjuangan Zaman

Para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan dengan kemampuan dan zamannya.

Hari ini kita tidak lagi berhadapan dengan penjajah dalam bentuk yang sama. Tantangan kita berubah.

Kita berhadapan dengan persoalan kualitas pendidikan, ketimpangan akses pendidikan, rendahnya literasi, perubahan karakter generasi muda, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, tantangan moral, serta kompetisi global.

Maka, perjuangan Fakultas Tarbiyah hari ini adalah perjuangan melalui pendidikan.

Jika dahulu para pahlawan mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan, maka tugas kita adalah mengangkat ilmu, membangun manusia, dan menciptakan peradaban.

Karena itu, Fakultas Tarbiyah tidak boleh hanya menjadi tempat untuk mencetak sarjana.

Fakultas Tarbiyah harus menjadi pusat lahirnya manusia yang mampu memperbaiki pendidikan dan masyarakat.

Pertama, Isi Kemerdekaan dengan Meningkatkan Mutu Pendidikan

Kemerdekaan memberikan kita kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.

Maka jangan sampai lembaga pendidikan justru menghasilkan pembelajaran yang biasa-biasa saja.

Fakultas harus terus memperbaiki kualitas pembelajaran, kurikulum, asesmen, kompetensi dosen, layanan akademik, dan pengalaman belajar mahasiswa.

Kita harus berani meninggalkan paradigma:

“Yang penting perkuliahan terlaksana.”

Menuju paradigma:

“Yang penting mahasiswa benar-benar belajar, berkembang, dan memiliki kompetensi.”

Inilah semangat pendidikan berbasis outcome.

Kedua, Merdeka Berpikir tetapi Tetap Beradab

Kemerdekaan akademik berarti memberikan ruang bagi civitas akademika untuk berpikir kritis, bertanya, berdiskusi, meneliti, dan menghasilkan gagasan.

Tetapi kebebasan berpikir harus berjalan bersama adab dan tanggung jawab.

Fakultas Tarbiyah harus menjadi ruang akademik yang sehat.

Dosen boleh berbeda pendapat dengan dosen lain.

Mahasiswa boleh mengkritisi gagasan dosennya.

Peneliti boleh menguji teori yang sudah mapan.

Tetapi semuanya dilakukan dengan argumentasi ilmiah, etika, dan penghormatan terhadap sesama.

Karena ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah.

Ketiga, Merdeka dari Budaya Kerja yang Tidak Produktif

Ini mungkin bagian yang paling sulit.

Mengisi kemerdekaan di lingkungan kampus juga berarti membebaskan diri dari budaya kerja yang tidak produktif.

Kita harus berani meninggalkan budaya:

  • bekerja hanya ketika diperintah;
  • terlalu banyak rapat tetapi sedikit hasil;
  • mengejar kegiatan tetapi mengabaikan dampak;
  • sibuk dengan administrasi tetapi kurang memperhatikan mutu;
  • bekerja sendiri-sendiri tanpa kolaborasi;
  • dan merasa cukup hanya karena program telah terlaksana.

Fakultas harus membangun budaya:

inisiatif, disiplin, kolaborasi, inovasi, akuntabilitas, dan orientasi pada hasil.

Kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja.

Kemerdekaan berarti memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.

Keempat, Merdeka dari Ketertinggalan Teknologi

Kita sedang memasuki era yang berbeda.

Artificial Intelligence, transformasi digital, big data, pembelajaran daring, dan berbagai teknologi baru sedang mengubah dunia pendidikan.

Fakultas Tarbiyah tidak boleh hanya menjadi penonton.

Kita harus menjadi bagian dari perubahan.

Dosen harus meningkatkan literasi digital dan AI.

Mahasiswa harus dibekali kompetensi digital.

Kurikulum harus responsif terhadap perubahan teknologi.

Namun teknologi tidak boleh menggantikan nilai kemanusiaan.

Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat pendidikan, bukan menggantikan manusia dalam pendidikan.

Inilah salah satu bentuk kemerdekaan intelektual: tidak takut terhadap perubahan, tetapi mampu mengendalikan arah perubahan.

Kelima, Merdeka untuk Berkarya

Saya percaya bahwa setiap dosen memiliki potensi untuk menghasilkan karya.

Karya ilmiah.

Buku.

Modul.

Inovasi pembelajaran.

Penelitian.

Pengabdian.

Karya digital.

Model pendidikan.

Dan berbagai gagasan yang dapat memberi manfaat.

Karena itu, Fakultas Tarbiyah harus menciptakan ekosistem yang memungkinkan dosen dan mahasiswa produktif berkarya.

Jangan sampai kampus hanya menjadi tempat untuk menyampaikan materi kuliah.

Kampus harus menjadi laboratorium gagasan dan karya.

Keenam, Jadikan Pengabdian sebagai Wujud Nyata Kemerdekaan

Kemerdekaan akan kehilangan makna jika ilmu yang kita miliki tidak memberikan manfaat kepada masyarakat.

Fakultas Tarbiyah harus hadir di tengah masyarakat.

Guru yang membutuhkan pelatihan harus mendapatkan pendampingan.

Madrasah yang membutuhkan penguatan manajemen harus mendapatkan solusi.

Pesantren yang membutuhkan inovasi pendidikan harus mendapatkan mitra.

Masyarakat yang menghadapi persoalan pendidikan harus merasakan kehadiran perguruan tinggi.

Dengan demikian, pengabdian masyarakat bukan sekadar memenuhi kewajiban Tri Dharma.

Pengabdian adalah cara perguruan tinggi membayar kembali kepercayaan masyarakat.

Ketujuh, Membangun Generasi yang Tidak Hanya Pintar tetapi Berkarakter

Kemerdekaan membutuhkan manusia yang mampu menjaga kemerdekaan itu sendiri.

Karena itu, Fakultas Tarbiyah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik.

Kita harus melahirkan generasi yang:

berilmu, beriman, berakhlak, kritis, kreatif, adaptif, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial.

Dalam konteks Islam Berkemajuan, pendidikan harus mampu mengintegrasikan keunggulan ilmu dengan kekuatan moral.

Kita membutuhkan generasi yang mampu menggunakan AI tetapi tidak kehilangan kejujuran.

Mampu bersaing tetapi tidak kehilangan solidaritas.

Mampu berpikir global tetapi tetap memiliki akar nilai dan budaya.

Mampu menjadi profesional tetapi tetap memiliki kepedulian kepada masyarakat.

Kedelapan, Fakultas Harus Menjadi Pusat Perubahan

Saya membayangkan Fakultas Tarbiyah bukan hanya sebagai unit akademik, tetapi sebagai pusat perubahan pendidikan di daerah.

Fakultas harus memiliki keberanian untuk bertanya:

Apa persoalan pendidikan yang sedang dihadapi masyarakat?

Apa kontribusi yang dapat kita berikan?

Penelitian apa yang perlu kita lakukan?

Inovasi apa yang dapat kita kembangkan?

Kompetensi apa yang harus dimiliki mahasiswa kita lima atau sepuluh tahun mendatang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi bagian dari budaya berpikir fakultas.

Sebab perguruan tinggi yang hanya mengikuti perubahan akan selalu terlambat.

Perguruan tinggi yang unggul harus mampu membaca perubahan bahkan sebelum perubahan itu terjadi.

Catatan Dekan

Sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah, saya memandang bahwa momentum kemerdekaan harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah fakultas kita sudah cukup memberikan manfaat?

Apakah mahasiswa mendapatkan pendidikan terbaik?

Apakah dosen mendapatkan ruang untuk berkembang?

Apakah penelitian kita menjawab persoalan nyata?

Apakah pengabdian kita benar-benar dirasakan masyarakat?

Apakah lulusan kita siap menghadapi masa depan?

Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka tidak perlu berkecil hati.

Justru di situlah tugas kita.

Fakultas yang baru tidak harus langsung sempurna. Tetapi sejak awal harus memiliki keberanian untuk menjadi lebih baik.

Kita tidak sedang membangun fakultas untuk satu atau dua tahun.

Kita sedang membangun institusi yang mudah-mudahan tetap berdiri, berkembang, dan memberikan manfaat jauh setelah generasi kita selesai mengabdi.

Karena itu, mari kita bangun Fakultas Tarbiyah dengan semangat para pendahulu:

bersatu dalam tujuan, serius dalam bekerja, terbuka terhadap perubahan, kuat dalam nilai, dan konsisten menghasilkan karya.

Penutup

Mengisi kemerdekaan bagi Fakultas Tarbiyah bukan hanya dengan upacara dan perayaan.

Mengisi kemerdekaan adalah ketika dosen terus belajar.

Ketika mahasiswa terus berkembang.

Ketika penelitian menghasilkan solusi.

Ketika pengabdian menyentuh masyarakat.

Ketika teknologi digunakan untuk kemajuan.

Ketika ilmu berjalan bersama akhlak.

Dan yang paling penting, ketika keberadaan fakultas benar-benar membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Para pahlawan telah mewariskan kepada kita sebuah negara yang merdeka.

Tugas generasi kita adalah mewariskan kepada generasi berikutnya pendidikan yang lebih maju, manusia yang lebih berkarakter, dan peradaban yang lebih bermartabat.

Itulah cara kita mengisi kemerdekaan.

Bukan hanya dengan mengenang perjuangan masa lalu, tetapi dengan melanjutkan perjuangan melalui karya hari ini dan menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Merdeka dalam berpikir. Merdeka dalam berkarya. Merdeka untuk memberi manfaat.

— Muwafiqus Shobri, M.Pd.I.
Dekan Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean

Bagikan Informasi Ini:

Berita Lainnya