Beranda » Catatan Dekan » Tips dan Strategi Mengembangkan Fakultas Tarbiyah Berbasis Islam Berkemajuan

Tips dan Strategi Mengembangkan Fakultas Tarbiyah Berbasis Islam Berkemajuan

Fakultas Tarbiyah Baru, Cara Berpikir Harus Baru

Oleh: Muwafiqus Shobri, M.Pd.I.

Membangun Fakultas Tarbiyah yang baru terbentuk bukan sekadar membangun struktur organisasi, menyusun program kerja, atau memenuhi kebutuhan administratif perguruan tinggi. Lebih dari itu, membangun fakultas adalah membangun ekosistem akademik, budaya kerja, reputasi, dan masa depan.

Fakultas Tarbiyah yang baru berdiri memiliki satu keuntungan besar: belum terlalu banyak terikat oleh tradisi lama. Karena itu, momentum awal ini harus dimanfaatkan untuk membangun fakultas dengan pola pikir yang lebih modern, adaptif, kolaboratif, berbasis teknologi, tetapi tetap memiliki akar yang kuat pada nilai-nilai Islam.

Dalam konteks tersebut, gagasan Islam Berkemajuan menjadi sangat relevan. Islam tidak boleh berhenti sebagai identitas, tetapi harus menjadi energi intelektual dan moral untuk melahirkan pendidikan yang unggul, inklusif, inovatif, berkeadaban, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Jangan Membangun Fakultas dengan Pola Pikir Lama

Kesalahan paling umum dalam membangun institusi baru adalah menggunakan cara berpikir lama untuk menghadapi tantangan baru.

Fakultas Tarbiyah hari ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu mengajar. Dunia pendidikan membutuhkan pendidik, pengelola pendidikan, peneliti, konsultan, inovator, dan pemimpin pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan karakter peserta didik, serta dinamika masyarakat.

Karena itu, pertanyaan strategisnya bukan hanya:

“Apa program yang harus kita buat?”

Tetapi:

“Fakultas seperti apa yang ingin kita wariskan lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan?”

Pertanyaan tersebut akan mengubah cara kita menentukan prioritas.

Pertama, Bangun Visi yang Besar tetapi Operasional

Fakultas baru membutuhkan visi yang mampu menjadi kompas, bukan sekadar kalimat indah dalam dokumen.

Visi harus diterjemahkan menjadi tiga hal: arah, indikator, dan aksi.

Jika ingin menjadi Fakultas Tarbiyah yang unggul dan berkemajuan, maka harus jelas apa ukuran keunggulannya. Apakah dari kualitas lulusan? Publikasi dosen? Rekognisi nasional? Kerja sama internasional? Inovasi pembelajaran? Kinerja alumni? Digitalisasi layanan? Atau kontribusi kepada masyarakat?

Visi yang baik harus dapat dijawab dengan angka dan bukti.

Kedua, Bangun Fakultas Berbasis Mutu, Bukan Sekadar Aktivitas

Banyak lembaga terlihat sangat aktif, tetapi belum tentu produktif.

Seminar banyak, rapat banyak, kegiatan banyak, tetapi dampaknya belum tentu terukur.

Fakultas Tarbiyah modern harus mulai membedakan antara activity dan impact.

Bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi:

  • berapa mahasiswa yang kompetensinya meningkat;
  • berapa dosen yang menghasilkan karya akademik;
  • berapa penelitian yang berdampak;
  • berapa mitra yang benar-benar aktif;
  • berapa lulusan yang terserap atau menciptakan lapangan kerja;
  • dan seberapa besar kontribusi fakultas bagi masyarakat.

Dengan demikian, budaya kerja fakultas bergerak dari “yang penting melaksanakan” menjadi “yang penting berdampak.”

Ketiga, Jadikan Dosen sebagai Intellectual Capital

Fakultas tidak akan maju hanya karena gedungnya bagus atau sistem digitalnya modern.

Aset terbesar fakultas adalah dosennya.

Karena itu, pengembangan dosen harus menjadi investasi utama.

Dosen perlu didorong memiliki academic positioning: ada yang kuat dalam pendidikan Islam, manajemen pendidikan, kurikulum, teknologi pendidikan, psikologi pendidikan, pendidikan madrasah, kepemimpinan, maupun bidang-bidang strategis lainnya.

Setiap dosen idealnya memiliki tiga portofolio:

mengajar dengan baik, meneliti secara produktif, dan memberi dampak kepada masyarakat.

Dalam jangka panjang, fakultas harus memiliki dosen yang tidak hanya dikenal di kampusnya sendiri, tetapi juga diakui oleh komunitas akademik nasional bahkan internasional.

Keempat, Kurikulum Harus Berbasis OBE dan Masa Depan

Kurikulum Fakultas Tarbiyah tidak boleh hanya menjawab kebutuhan hari ini.

Ia harus mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia pendidikan masa depan.

Karena itu, pendekatan Outcome-Based Education (OBE) harus benar-benar diimplementasikan, bukan hanya menjadi istilah dalam dokumen akreditasi.

CPL, CPMK, Sub-CPMK, pembelajaran, asesmen, dan tugas mahasiswa harus terhubung secara logis.

Lebih penting lagi, mahasiswa harus mengalami pembelajaran yang aktif melalui problem-based learning, project-based learning, case method, collaborative learning, serta pengalaman lapangan.

Mahasiswa jangan hanya bertanya, “Apa jawabannya?”

Mereka harus dilatih bertanya:

“Apa masalahnya, mengapa terjadi, bagaimana menganalisisnya, dan solusi apa yang dapat saya tawarkan?”

Inilah pendidikan yang mempersiapkan manusia untuk masa depan.

Kelima, AI Harus Menjadi Mitra Pembelajaran, Bukan Musuh

Fakultas Tarbiyah yang ingin berkemajuan tidak boleh alergi terhadap Artificial Intelligence (AI).

AI bukan pengganti dosen. AI juga bukan pengganti proses berpikir mahasiswa.

AI harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat pembelajaran, penelitian, produktivitas akademik, dan inovasi pendidikan.

Mahasiswa perlu diajarkan bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga cara memverifikasi, mengkritisi, mengintegrasikan, dan menggunakan AI secara etis.

Di sinilah nilai-nilai Islam menjadi penting.

Teknologi harus berjalan bersama amanah, kejujuran, tanggung jawab, adab, dan kemaslahatan.

Fakultas Tarbiyah harus mampu melahirkan generasi yang AI literate tetapi tetap humanis dan berkarakter.

Keenam, Bangun Budaya Akademik yang Modern tetapi Tetap Beradab

Modernitas tidak berarti kehilangan identitas.

Justru Fakultas Tarbiyah harus membuktikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai Islam.

Budaya akademik yang dibangun harus mencerminkan:

ilmiah dalam berpikir, terbuka dalam berdiskusi, kritis dalam menganalisis, santun dalam berkomunikasi, jujur dalam berkarya, dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan.

Islam Berkemajuan tidak identik dengan meninggalkan tradisi keislaman. Sebaliknya, nilai-nilai keislaman harus menjadi fondasi untuk menghadirkan pembaruan.

Kita membutuhkan generasi yang mampu memegang tradisi, tetapi tidak terjebak dalam romantisme masa lalu; mampu menerima teknologi, tetapi tidak kehilangan nilai.

Ketujuh, Bangun Fakultas yang Dekat dengan Masyarakat

Fakultas Tarbiyah jangan menjadi menara gading.

Persoalan pendidikan di masyarakat harus menjadi laboratorium kehidupan bagi civitas akademika.

Madrasah, pesantren, sekolah, lembaga pendidikan Islam, pemerintah desa, organisasi masyarakat, dan komunitas pendidikan dapat menjadi mitra strategis.

Program pengabdian masyarakat juga harus bergerak dari sekadar kegiatan seremonial menuju problem solving.

Jika masyarakat menghadapi persoalan literasi, fakultas hadir.

Jika guru membutuhkan peningkatan kompetensi, fakultas hadir.

Jika madrasah membutuhkan penguatan manajemen, fakultas hadir.

Jika pesantren membutuhkan transformasi digital, fakultas hadir.

Dengan demikian, keberadaan fakultas benar-benar terasa manfaatnya.

Kedelapan, Bangun Jejaring dan Kolaborasi

Fakultas baru tidak boleh merasa harus melakukan semuanya sendiri.

Justru karena masih muda, fakultas harus agresif membangun networking.

Kerja sama dapat dikembangkan dengan perguruan tinggi, madrasah, pesantren, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia industri, organisasi profesi, komunitas, bahkan mitra internasional.

Prinsipnya sederhana:

Kolaborasi mempercepat sesuatu yang sulit dicapai sendirian.

Fakultas yang memiliki jejaring kuat akan memiliki akses lebih besar terhadap pengetahuan, penelitian, beasiswa, pertukaran mahasiswa, publikasi, pengembangan SDM, dan peluang karier lulusan.

Kesembilan, Bangun Branding Akademik Sejak Awal

Reputasi tidak muncul secara tiba-tiba.

Fakultas baru harus mulai membangun academic branding sejak hari pertama.

Bukan sekadar aktif di media sosial, tetapi mampu menunjukkan karya nyata:

  • penelitian dosen;
  • publikasi ilmiah;
  • prestasi mahasiswa;
  • inovasi pembelajaran;
  • kegiatan pengabdian;
  • kerja sama strategis;
  • karya buku;
  • forum akademik;
  • dan kisah sukses alumni.

Publik harus mengetahui bukan hanya siapa kita, tetapi juga apa kontribusi kita.

Branding terbaik bukanlah slogan.

Branding terbaik adalah reputasi yang dibangun melalui karya.

Kesepuluh, Jadikan Mahasiswa sebagai Subjek Perubahan

Mahasiswa bukan sekadar objek layanan akademik.

Mereka harus dilibatkan sebagai subjek pembangunan fakultas.

Berikan ruang kepada mahasiswa untuk melakukan penelitian, proyek sosial, kewirausahaan, inovasi pendidikan, organisasi, publikasi, dan berbagai aktivitas produktif lainnya.

Fakultas yang sehat bukan fakultas yang mahasiswanya hanya datang ke kelas, mengikuti ujian, kemudian pulang.

Fakultas yang sehat adalah fakultas yang membuat mahasiswa bertumbuh secara intelektual, spiritual, sosial, profesional, dan personal.

Dari Fakultas Baru Menuju Fakultas Berdampak

Pada akhirnya, membangun Fakultas Tarbiyah bukan tentang seberapa cepat kita menjadi besar.

Yang lebih penting adalah seberapa kuat fondasi yang kita bangun.

Kita membutuhkan fakultas yang memiliki tata kelola modern, kurikulum adaptif, dosen produktif, mahasiswa aktif, riset yang relevan, pengabdian yang berdampak, teknologi yang dimanfaatkan secara bijak, dan budaya akademik yang berakar pada nilai-nilai Islam.

Fakultas Tarbiyah yang berkemajuan bukan fakultas yang meninggalkan identitas keislamannya demi mengejar modernitas.

Sebaliknya, Islam menjadi fondasi, ilmu menjadi kekuatan, teknologi menjadi instrumen, dan kemaslahatan menjadi orientasi.

Jika fondasi itu dibangun dengan serius, maka fakultas yang hari ini masih baru bukan mustahil menjadi institusi yang kelak diperhitungkan secara nasional, dipercaya masyarakat, dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah fakultas bukan hanya seberapa banyak lulusan yang dihasilkan.

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa banyak perubahan positif yang mampu diciptakannya.

Fakultas Tarbiyah harus berani bermimpi besar, bekerja dengan data, bergerak dengan kolaborasi, memanfaatkan teknologi, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.

Itulah jalan menuju Fakultas Tarbiyah yang modern, unggul, berkarakter, dan benar-benar berkemajuan.

— Muwafiqus Shobri, M.Pd.I.
Bawean, 13 Agustus 2026

Bagikan Informasi Ini:

Berita Lainnya