“Dosennya enak banget ngajarnya.”
Kalimat ringan ini sering terdengar di kampus, namun sesungguhnya menyimpan makna mendalam. Ia mencerminkan bahwa cara dosen mengajar tidak hanya berpengaruh pada proses belajar, tetapi juga pada hubungan psikologis dan spiritual antara dosen dan mahasiswa. Dalam dunia pendidikan tinggi, dosen bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing, penuntun nilai, dan teladan bagi mahasiswa. Maka, memahami cara mengajar yang disukai mahasiswa bukan tentang mencari popularitas, melainkan tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang bermakna, inspiratif, dan penuh keteladanan.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. menegaskan bahwa tugas mendidik adalah bagian dari amanah Ilahi. Firman-Nya dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 mengingatkan bahwa ilmu bersumber dari Allah dan mengajar adalah wujud dari rahmat-Nya:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ, خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ, اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ, الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ, عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia)”.
Ayat ini menegaskan bahwa mengajar bukan sekadar kegiatan intelektual, tetapi ibadah yang menuntut kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Dosen yang menyadari makna spiritual ini akan mengajar bukan untuk menggugurkan kewajiban, melainkan untuk menebarkan cahaya ilmu.
Menurut teori andragogi dari Malcolm Knowles, mahasiswa sebagai orang dewasa belajar dengan cara berbeda dari anak-anak. Mereka membutuhkan relevansi, penghargaan terhadap pengalaman, serta kesempatan untuk terlibat aktif dalam proses belajar. Dosen yang memahami hal ini tidak akan mendominasi kelas, melainkan menciptakan dialog. Mahasiswa lebih termotivasi belajar ketika dosen bersikap terbuka dan interaktif. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
حَدِّثُوا النَّاسَ، بما يَعْرِفُونَ أتُحِبُّونَ أنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ ورَسولُهُ
“Bicaralah kepada orang lain sesuai dengan apa yang mereka pahami. Apakah Engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari).
Hadis ini mengandung prinsip pedagogik yang tinggi: bahwa pengajaran harus menyesuaikan dengan kesiapan mental dan intelektual peserta didik. Dosen yang mampu menjelaskan dengan sederhana, tanpa merendahkan kecerdasan mahasiswanya, adalah pendidik sejati.
Selain komunikasi yang baik, penguasaan materi dan kejelasan dalam menjelaskan menjadi kunci utama. Riset Brown & Atkins (1988) menunjukkan bahwa clarity (kejelasan penjelasan) adalah faktor terbesar yang memengaruhi persepsi mahasiswa terhadap kualitas dosen. Dalam Islam, kejelasan ini sejalan dengan konsep tabligh—menyampaikan dengan terang dan mudah dipahami. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai guru yang fasih, sistematis, dan sabar dalam menyampaikan ajaran. Aisyah ra. meriwayatkan bahwa
كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ
“Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu jelas hingga dapat dipahami oleh siapa saja yang mendengarnya.” (HR. Abu Dawud). Keteladanan ini menjadi pedoman penting bagi setiap dosen untuk berbicara dengan struktur, ketenangan, dan makna.
Selain penguasaan materi, dosen juga perlu menghadirkan metode mengajar yang hidup dan kontekstual. Generasi mahasiswa hari ini tumbuh dalam budaya digital yang serba cepat dan visual. Bila dosen hanya menggunakan metode ceramah monoton, maka daya serap mahasiswa akan menurun drastis. Teori Experiential Learning dari David Kolb menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam belajar melalui tahapan “mengalami, merenung, berpikir, dan bertindak.” Artinya, dosen perlu mengajak mahasiswa terlibat dalam proyek, simulasi, atau studi kasus nyata agar konsep yang diajarkan lebih bermakna.
Islam juga mendorong pendekatan pembelajaran yang aplikatif. Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2,
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. “Allah menyebut Nabi sebagai pendidik yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan Kitab serta hikmah.” Ayat ini menggambarkan tiga aspek pendidikan ideal: kognitif, afektif, dan spiritual. Dosen sebaiknya meneladani pola ini dengan menyatukan ilmu, nilai, dan praktik.
Namun, secanggih apa pun metode yang digunakan, keberhasilan mengajar tetap bergantung pada hubungan kemanusiaan antara dosen dan mahasiswa. Dalam paradigma Student-Centered Learning (SCL), dosen bukan pusat informasi, tetapi fasilitator dan mitra belajar. Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan dalam membangun kedekatan dengan murid-muridnya. Beliau memanggil sahabat dengan nama terbaik, menghormati pendapat mereka, dan tidak pernah merendahkan siapa pun. Dalam hal ini, sabda beliau sangat relevan:
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menegaskan pentingnya kasih sayang dan rasa hormat dalam interaksi pendidikan.
Dosen yang disukai mahasiswa juga identik dengan sikap adil dan konsisten dalam menilai. Keadilan adalah prinsip universal dalam pendidikan. Teori Equity Theory dari Adams menjelaskan bahwa motivasi belajar meningkat ketika mahasiswa merasa diperlakukan adil. Islam bahkan menempatkan keadilan sebagai nilai dasar kehidupan ilmiah. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
Dosen yang objektif, transparan dalam memberi nilai, dan menghargai proses belajar akan mendapatkan kepercayaan yang dalam dari mahasiswa.
Selain adil, dosen yang disukai mahasiswa biasanya rendah hati, sabar, dan reflektif. Mereka tidak memamerkan ilmunya, tetapi membaginya dengan ketulusan. Dalam pendidikan Islam, sifat tawadhu’ (rendah hati) adalah fondasi utama seorang pendidik. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Tidaklah Allah s.w.t. menambah terhadap seseorang yang mau memaafkan melainkan kemuliaan dan tidak ada seorangpun yang bersifat tawaddhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”. (HR. Muslim)
Sikap rendah hati membuka ruang dialog yang sehat dan menciptakan atmosfer belajar yang manusiawi. Mahasiswa lebih mudah menghargai dosen yang berjiwa terbuka dan mau belajar bersama mereka.
Lebih dari itu, dosen yang disukai mahasiswa adalah mereka yang mengajarkan makna, bukan hanya materi. Dalam Islam, makna itu berakar pada nilai ihsan—melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya karena merasa diawasi oleh Allah. Ketika dosen mengajar dengan niat ikhlas, setiap kata menjadi amal, setiap tatapan menjadi doa. Inilah yang membedakan dosen inspiratif dari sekadar pengajar administratif.
Pada akhirnya, menjadi dosen yang disukai mahasiswa bukan tentang menjadi lembut atau memanjakan, tetapi tentang menjadi pendidik yang tulus, adil, dan membangkitkan semangat belajar. Dosen yang mengajar dengan hati akan selalu diingat, bukan karena nilai yang diberikan, tetapi karena kehadirannya yang menyalakan cahaya ilmu dan kebijaksanaan. Dalam hadis disebutkan:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)).
Maka, dosen terbaik bukan yang paling banyak bicara, tetapi yang paling banyak memberi manfaat dan inspirasi.
Menjadi dosen yang disukai mahasiswa sesungguhnya adalah wujud pengabdian tertinggi dalam tridharma perguruan tinggi: mendidik dengan ilmu, membimbing dengan akhlak, dan menginspirasi dengan ketulusan. Karena pada akhirnya, mengajar adalah ibadah, dan setiap ibadah yang dilakukan dengan cinta akan meninggalkan jejak kebaikan yang panjang.
Oleh: Muwafiqus Shobri
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAI Hasan Jufri Bawean








