DEMA FAKTA INHAFI Bawean Gelar Talkshow Inspiratif Mahasiswa, Kupas Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam
- Selasa, 28 Juli 2026
- Dema Fakta Inhafi Edukasi Kegiatan Mahasiswa News FAKTA
- Cetak

FAKTAINHAFI – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Tarbiyah (FAKTA) Institut Agama Islam Hasan Jufri (INHAFI) Bawean sukses menyelenggarakan Talkshow Inspiratif Mahasiswa bertema “Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam: Cara Menghadapi Stres, Overthinking, dan Tekanan Akademik.” Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi bagi mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan akademik dan sosial di era modern.
Acara diawali dengan sambutan panitia yang menyampaikan bahwa isu kesehatan mental merupakan persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Tekanan akademik, tuntutan prestasi, hingga persoalan pribadi sering kali menjadi penyebab munculnya stres dan overthinking. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan wawasan, motivasi, sekaligus solusi yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Ketua DEMA Fakultas Tarbiyah, Aisha Shinta Bilqis, dalam sambutannya mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi persoalan psikologis. Menurutnya, menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah Allah SWT atas diri sendiri.
“Mahasiswa bukan hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki ketangguhan mental dan spiritual. Melalui talkshow ini kami berharap lahir generasi mahasiswa yang mampu mengelola emosi, saling peduli, serta menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan,” ungkap Aisha.
Talkshow menghadirkan narasumber Minasochah, S.H.I., M.Si., seorang pegiat sosial, peneliti, sekaligus tokoh pemberdayaan masyarakat Pulau Bawean yang saat ini aktif sebagai Ketua LKP3A PC Fatayat NU Bawean dan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Sangkapura. Selain itu, hadir pula Defi Dachlian Nurdiana, M.Si., yang memberikan perspektif ilmiah mengenai psikologi dan kesehatan mental.
Dalam pemaparannya, Minasochah menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi psikologis, tetapi juga oleh pola hidup yang sehat dan lingkungan yang mendukung. Ia menekankan beberapa langkah sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan mental, yaitu menjaga kesehatan fisik, membangun pola pikir yang sehat, memiliki lingkungan pertemanan yang positif, membiasakan berbagi cerita (sharing), menyediakan waktu untuk me time, menghindari kebiasaan mengeluh secara berlebihan, serta tidak menunda pekerjaan yang justru dapat memperbesar beban pikiran.
Lebih lanjut, ia mengajak mahasiswa membangun konsep diri yang positif, yakni dengan membiasakan berpikir positif dan bertindak positif dalam setiap situasi. Menurutnya, cara seseorang memandang dirinya sendiri sangat menentukan kemampuannya menghadapi tekanan hidup.
Dalam perspektif Islam, kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Karena itu, terapi terbaik bagi ketenangan jiwa adalah memperkuat hubungan spiritual melalui menjaga salat fardu secara konsisten, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, memperbanyak doa, zikir, serta memperbanyak istigfar sebagai bentuk penyucian hati dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Sementara itu, Defi Dachlian Nurdiana, M.Si. mengulas kesehatan mental melalui pendekatan psikologi, salah satunya dengan menjelaskan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Ia menerangkan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan yang harus terpenuhi secara bertahap, mulai dari kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Namun dalam perspektif Islam, pemenuhan kebutuhan tersebut harus tetap diarahkan untuk memperoleh ridha Allah SWT, sehingga keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan spiritual menjadi kunci kebahagiaan hidup.
Ia juga mengajak peserta merenungkan makna istigfar. Menurutnya, istigfar bukan hanya diucapkan ketika melakukan kesalahan, tetapi menjadi kebutuhan setiap manusia untuk membersihkan hati, mengakui keterbatasan diri, dan memohon kekuatan kepada Allah SWT dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Suasana talkshow semakin interaktif saat sesi tanya jawab berlangsung. Salah satu peserta, Aini dari Program Studi PGMI, mengajukan pertanyaan mengenai cara menghadapi teman yang tampak murung, mengalami stres, menarik diri dari lingkungan, bahkan merasa bosan menjalani hidup. Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan pentingnya kepedulian sosial. Teman yang mengalami kondisi demikian tidak boleh dihakimi atau dijauhi, melainkan perlu didampingi, diajak berkomunikasi dengan empati, diberikan dukungan emosional, serta diarahkan untuk memperoleh bantuan dari keluarga maupun pihak yang kompeten apabila kondisinya memerlukan penanganan lebih lanjut.
Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Saddam dari Program Studi MPI mengenai indikator stres sejak tingkat yang paling ringan. Narasumber menjelaskan bahwa stres umumnya ditandai dengan perubahan suasana hati, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, gangguan tidur, hingga menurunnya semangat menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut hendaknya dihadapi dengan memperbanyak ikhtiar, kesabaran, keikhlasan, dan muhasabah (introspeksi diri), disertai usaha nyata memperbaiki pola hidup serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusias ini mendapat apresiasi dari seluruh peserta. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan mental dari sisi psikologi, tetapi juga mendapatkan penguatan spiritual bahwa Islam telah memberikan tuntunan yang sangat lengkap dalam menjaga kesehatan jiwa.
Melalui Talkshow Inspiratif Mahasiswa ini, DEMA Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean berharap tumbuh kesadaran bahwa menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari ikhtiar menjadi insan yang sehat secara fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Dengan mental yang kuat serta keimanan yang kokoh, mahasiswa diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan akademik maupun kehidupan dengan penuh optimisme, kesabaran, dan tawakal kepada Allah SWT.








