Beranda » Dialog Kebangsaan » Merawat Kemerdekaan melalui Perempuan Berdaya: FAKTA INHAFI, LKKNU, Fatayat NU dan TP-PKK Perkuat Kolaborasi Pendidikan di Bawean

Merawat Kemerdekaan melalui Perempuan Berdaya: FAKTA INHAFI, LKKNU, Fatayat NU dan TP-PKK Perkuat Kolaborasi Pendidikan di Bawean

FAKTAINHAFI – Perempuan bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, tetapi merupakan kekuatan penting yang dapat menggerakkan pendidikan, keluarga, organisasi, dan masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam Talk Show dan Diskusi Interaktif “Merdeka: Perempuan Penggerak Pendidikan, Penebar Kemaslahatan” yang berlangsung di Aula Lantai 4 INHAFI Bawean, Minggu (16/8/2026).

Kegiatan yang digelar dalam suasana hangat dan interaktif tersebut mempertemukan unsur perguruan tinggi, organisasi perempuan, organisasi kemahasiswaan, serta elemen pemberdayaan masyarakat. Rangkaian kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean dan PC Fatayat NU Bawean, sebagai langkah memperkuat sinergi di bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan diselenggarakan secara kolaboratif oleh DEMA FAKTA INHAFI, LKP3A PC Fatayat NU Bawean, LKKNU Bawean, dan TP-PKK Kec. Sangkapura.

Sekitar 90 peserta hadir dari berbagai unsur penyelenggara serta organisasi perempuan dan kemahasiswaan di Pulau Bawean, antara lain Nasyiatul Aisyiyah (NA), PC IPPNU Bawean, HMI Komisariat Bawean, PMII PK Hasan Jufri, dan PMII PK Harun Thohir.

Empat Perspektif, Satu Semangat Perubahan

Empat narasumber hadir dengan latar belakang kepemimpinan yang berbeda. Masing-masing membawa perspektif yang sesuai dengan bidang pengabdian dan pengalaman organisasi yang dimiliki.

Narasumber pertama Nur Fadiyah Umar Junid, Amd.Kep., Ketua Tim Penggerak PKK Kec. Sangkapura, banyak mengulas Program Pokok PKK melalui empat kelompok kerja (Pokja). Program tersebut mencakup pembinaan karakter dan gotong royong keluarga (Pokja I), pendidikan, keterampilan, serta peningkatan ekonomi keluarga melalui UP2K (Pokja II), penguatan ketahanan pangan dan pemanfaatan pekarangan melalui Hatinya PKK serta pembinaan rumah sehat (Pokja III), serta bidang kesehatan, lingkungan, dan perencanaan keluarga (Pokja IV).

Dalam implementasinya, TP-PKK Kecamatan Sangkapura juga menekankan pembinaan administrasi desa, optimalisasi Posyandu 6 Bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang mencakup kesehatan, pendidikan, sosial, pekerjaan umum, perumahan rakyat, serta ketenteraman dan ketertiban umum, perlindungan masyarakat, serta evaluasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Program-program tersebut diarahkan agar pemberdayaan tidak hanya berlangsung di tingkat kecamatan, tetapi dapat dirasakan hingga keluarga dan masyarakat di tingkat desa.

Dalam pembahasannya, ia juga menyinggung tantangan yang masih dihadapi sebagian anggota PKK di tingkat desa dalam memperoleh akses terhadap informasi, program, maupun kesempatan pengembangan kapasitas. Hal tersebut menjadi perhatian penting agar pemberdayaan tidak hanya berjalan pada level struktural, tetapi benar-benar menjangkau perempuan hingga tingkat akar rumput.

Sementara itu, Narasumber kedua Rafi’ah, M.Pd.I., Ketua PC Fatayat NU Bawean, menghadirkan perspektif kepemimpinan perempuan melalui kisah Nyai Ontosoroh. Kisah tersebut menjadi refleksi tentang keberanian perempuan untuk berpikir, bersikap, dan memperjuangkan martabatnya di tengah berbagai keterbatasan sosial.

Ia kemudian menekankan tiga pesan penting bagi perempuan: Speak Up — Stand Up — Step Up. Perempuan harus berani Speak Up, menyampaikan gagasan dan aspirasinya; Stand Up, berdiri teguh atas prinsip dan nilai yang diyakini; serta Step Up, berani mengambil langkah dan tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi.

Ketiga prinsip tersebut saling berkaitan: Speak Up memberikan suara, Stand Up memberikan keteguhan, dan Step Up melahirkan tindakan. Perempuan yang mampu menjalankan ketiganya bukan hanya menjadi perempuan yang berani berbicara, tetapi juga perempuan yang berkarakter, memiliki kepemimpinan, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi keluarga, organisasi, pendidikan, dan masyarakat.

Dalam konteks Bawean, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Perempuan memiliki banyak ruang untuk berkontribusi, baik melalui perguruan tinggi, organisasi perempuan, organisasi kemahasiswaan, PKK, komunitas, maupun lingkungan keluarga. Karena itu, perempuan Bawean tidak harus menunggu datangnya kesempatan. Mereka perlu berani menyuarakan gagasan, berani mempertahankan nilai yang diyakini, dan berani mengambil langkah untuk menciptakan peluang serta menjadi bagian dari solusi.

Narasumber ketiga Yudisti’anah Naike Erir, S.H.I., Koordinator Bidang Kesejahteraan Keluarga LKKNU Bawean, banyak berbicara mengenai kemaslahatan keluarga. Dalam analoginya, pendidikan dan kemaslahatan ibarat dua roda sepeda. Sebuah sepeda tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila salah satu rodanya kempes. Demikian pula kehidupan keluarga dan pembangunan manusia tidak akan berjalan optimal jika pendidikan dan ketahanan keluarga tidak diperkuat secara bersamaan.

Pembahasan juga menyentuh pentingnya kepekaan suami dalam membangun keluarga yang maslahat. Keluarga bukan hanya tentang pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga tentang komunikasi, kepedulian, tanggung jawab, pendidikan, dan kemampuan suami-istri untuk saling memahami serta mendukung.

Perspektif tersebut menegaskan bahwa kemaslahatan keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Ketahanan keluarga membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga dan dukungan lingkungan sosial yang sehat.

Narasumber terakhir yang merupakan Dekan Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean, Muwafiqus Shobri, M.Pd.I., mengajak peserta melihat kembali sejarah Islam melalui figur-figur perempuan yang memiliki keteguhan iman, kecerdasan, keberanian, dan kontribusi besar.

Ia mencontohkan Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun, yang tetap mempertahankan keimanannya meskipun hidup di tengah kekuasaan seorang penguasa yang zalim. Ia juga mengangkat Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa AS, sebagai sosok perempuan yang dimuliakan karena kesucian, keteguhan, dan ketaatannya kepada Allah SWT. Kemudian Khadijah binti Khuwailid RA, istri Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai perempuan mulia, pengusaha yang sukses, sekaligus sosok yang memberikan dukungan besar kepada Rasulullah SAW pada fase awal dakwah Islam.

Dekan juga mencontohkan Aisyah binti Abu Bakar RA, istri Rasulullah SAW yang dikenal memiliki keluasan ilmu dan menjadi salah satu periwayat hadis yang sangat penting dalam khazanah keilmuan Islam. Selain itu, Fatimah az-Zahra RA, putri Rasulullah SAW, menjadi teladan dalam keteguhan iman, kesederhanaan, keluarga, dan pengabdian.

Menurutnya, kisah perempuan-perempuan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Islam memiliki banyak figur perempuan yang bukan hanya hadir sebagai pelengkap sejarah, tetapi menjadi tokoh penting dalam perjalanan peradaban.

Pesan tersebut relevan dengan konteks perempuan Bawean hari ini. Perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, mengembangkan kapasitas, memimpin, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Muwafiqus Shobri juga memperkenalkan Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean sebagai salah satu ruang akademik yang dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat pendidikan perempuan di Bawean. Fakultas Tarbiyah memiliki tiga program studi, yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Ketiga program studi tersebut memiliki karakter keilmuan yang berbeda, tetapi berada dalam satu misi besar untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang pendidikan. PAI mempersiapkan pendidik dan insan pendidikan yang memiliki kompetensi keislaman dan pedagogik. MPI mengembangkan kapasitas dalam pengelolaan dan kepemimpinan lembaga pendidikan. Sementara PGMI mempersiapkan calon pendidik pada jenjang pendidikan dasar/madrasah ibtidaiyah. Dekan menegaskan bahwa ketiganya siap menjadi bagian dari upaya menempa, mendidik, dan mewujudkan cita-cita bersama dalam mengawal pendidikan perempuan di Pulau Bawean.

Lebih menarik lagi, keberadaan DEMA Fakultas Tarbiyah dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan dinilai sangat relevan dengan tema kegiatan. Departemen tersebut dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan, kegiatan, advokasi, dan berbagai bentuk pemberdayaan yang berkaitan dengan isu perempuan dan pendidikan.

Di hadapan peserta, Dekan juga menyampaikan adanya kesempatan kuliah dengan beasiswa 50 persen bagi karyawan yang ingin melanjutkan kuliah di INHAFI Bawean. Kesempatan tersebut menjadi bagian dari semangat membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat. Pendidikan tinggi, menurutnya, harus semakin dekat dan terjangkau sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas akademik dan profesionalnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar perempuan dan masyarakat Bawean tidak berhenti pada cita-cita, tetapi berani mengambil langkah nyata untuk meningkatkan pendidikan.

Empat Pertanyaan Mengangkat Persoalan Nyata Bawean

Sesi dialog interaktif kemudian mempertemukan para narasumber dengan empat pertanyaan dari peserta.

Pertanyaan pertama menyoroti peluang kerja bagi lulusan perguruan tinggi yang terkadang dianggap sulit diperoleh apabila tidak memiliki “orang dalam”. Persoalan tersebut membuka pembahasan tentang pentingnya kompetensi, pengalaman, jejaring, integritas, dan penciptaan peluang kerja bagi generasi muda.

Pertanyaan kedua membahas akses anggota PKK di desa yang masih dirasakan terbatas. Isu ini menegaskan pentingnya pemerataan informasi, program, pendampingan, dan kesempatan pengembangan kapasitas hingga tingkat desa.

Pertanyaan ketiga mengangkat program penanganan dan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Bawean. Persoalan tersebut memperluas makna pendidikan sebagai hak setiap anak, sekaligus menuntut perhatian bersama dari keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemangku kepentingan.

Pertanyaan keempat menyentuh kemaslahatan keluarga dan kepekaan suami. Peserta mempertanyakan bagaimana membangun keluarga yang tidak hanya bertahan secara formal, tetapi benar-benar menghadirkan kepedulian, komunikasi, dan tanggung jawab bersama.

Keempat pertanyaan tersebut dijawab oleh para narasumber sesuai perspektif masing-masing, sehingga dialog menjadi ruang pertukaran gagasan yang dekat dengan persoalan nyata masyarakat khususnya perempuan di pulau bawean.

Puncak penting kegiatan ditandai dengan penandatanganan MoU antara Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean dan PC Fatayat NU Bawean. Kerja sama ini menjadi simbol bahwa pembicaraan tentang perempuan, pendidikan, dan kemaslahatan tidak berhenti pada forum diskusi. Gagasan tersebut diarahkan untuk menjadi kolaborasi kelembagaan yang dapat dikembangkan melalui berbagai program bersama.

Perguruan tinggi memiliki kekuatan akademik dan sumber daya pengetahuan, sedangkan organisasi perempuan memiliki jaringan kader dan kedekatan dengan masyarakat. Pertemuan dua kekuatan tersebut menjadi modal penting untuk menghadirkan program yang lebih kontekstual dan berdampak.

Dari Talk Show Menuju Gerakan Bersama

Kegiatan ini akhirnya meninggalkan pesan yang lebih besar daripada sekadar sebuah forum peringatan kemerdekaan.

Perempuan membutuhkan pendidikan untuk berdaya. Perempuan membutuhkan ruang untuk bersuara. Perempuan membutuhkan keberanian untuk mengambil peran. Dan masyarakat membutuhkan kolaborasi untuk memastikan keberdayaan tersebut menghasilkan kemaslahatan.

Dari kisah Asiyah, Maryam, Khadijah, Aisyah, dan Fatimah, perempuan Bawean diajak melihat bahwa sejarah Islam telah memberikan banyak teladan tentang perempuan yang kuat, berilmu, beriman, dan berkontribusi.

Dari PKK, peserta belajar tentang pentingnya pemberdayaan keluarga hingga tingkat desa. Dari Fatayat NU, muncul pesan keberanian: Speak Up, Stand Up, Step Up. Dari LKKNU, lahir refleksi bahwa pendidikan dan keluarga adalah dua roda yang harus sama-sama dijaga. Sementara dari Fakultas Tarbiyah, hadir komitmen untuk membuka ruang pendidikan dan pengembangan kapasitas perempuan.

Dengan tiga program studi PAI, MPI, dan PGMI serta Departemen Pemberdayaan Perempuan DEMA Fakultas Tarbiyah, INHAFI Bawean menegaskan kesiapan untuk menjadi bagian dari ekosistem yang mengawal pendidikan dan pemberdayaan perempuan di Pulau Bawean.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang menciptakan masa depan yang lebih berpendidikan, berdaya, adil, dan maslahat.

Speak Up. Stand Up. Step Up. Perempuan Bawean bergerak, pendidikan menguat, kemaslahatan meningkat.

Bagikan Informasi Ini:

Berita Lainnya