Dosen Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean Jadi Narasumber Inspiratif dalam Webinar Nasional Hari Santri 2025

Bawean, 26 Oktober 2025 — Fakultas Tarbiyah (FAKTA) Institut Agama Islam Hasan Jufri Bawean (INHAFI Bawean) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dosen Fakultas Tarbiyah, Muwafiqus Shobri, M.Pd.I, tampil memukau sebagai salah satu narasumber utama dalam Webinar Nasional Hari Santri 2025 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT) pada tanggal 24–26 Oktober 2025.

Webinar bertema “Teguhkan Peran Santri dalam Moderasi dan Toleransi di Era Artificial Intelligence” ini menghadirkan berbagai tokoh pendidikan, akademisi, dan ulama dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Dosen yang juga merupakan Dekan FAKTA INHAFI Bawean Muwafiqus Shobri menyampaikan materi inspiratif bertajuk “Santri Melek Teknologi: Menjawab Tantangan Toleransi di Era Artificial Intelligence.”

Dalam pemaparannya, beliau menguraikan bahwa santri masa kini tidak boleh gagap terhadap teknologi, sebab kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun demikian, beliau menegaskan pentingnya prinsip kehati-hatian, etika, dan tanggung jawab moral dalam penggunaan AI sesuai nilai-nilai Islam.

Mengutip hasil Bahtsul Masail Waqi’iyah Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama Tahun 2023, Beliau menjelaskan bahwa: Penggunaan AI sebagai pedoman fatwa adalah haram, AI boleh digunakan sebagai sarana konsultasi sekunder & Pengembangan AI keagamaan adalah fardu kifayah.

Lebih lanjut, Beliau juga mengutip pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa Kecerdasan buatan adalah anugerah Allah dan bentuk kemajuan teknologi yang patut disyukuri, namun harus digunakan dengan bijak, beretika, dan dalam pengawasan ketat. Meski bermanfaat di banyak bidang, AI tidak dapat menggantikan peran ulama atau dijadikan rujukan utama dalam hukum agama. AI hanyalah alat bantu, bukan mujtahid atau mufti.

Dalam konteks toleransi, beliau mengutip dalil Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13 sebagai dasar nilai universal Islam:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Selain itu, Beliau juga menukil hadis riwayat Bukhari dari Ibnu ‘Abbas yang menjadi dasar etika toleransi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ
“Dari Ibnu ‘Abbas berkata; ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau bersabda: Al-Hanifiyyah As-Samhah (agama yang lurus lagi toleran).” (HR. Bukhari).

Menutup materinya, Beliau juga menyinggung prinsip kehati-hatian dalam penggunaan AI dengan mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سعْدُ بْنِ سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ.
“Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Sinan al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak boleh melakukan perbuatan yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Beliau menegaskan, hadis ini menjadi landasan etis penggunaan AI dalam kehidupan umat Islam, yakni bahwa setiap inovasi teknologi harus menjauhkan manusia dari kemudaratan dan mengutamakan kemaslahatan umum.

Sebagai penutup, Dekan Fakultas Tarbiyah ini menyampaikan rekomendasi strategis untuk para santri di era AI, di antaranya:

  1. Menumbuhkan literasi digital berbasis nilai Islam, agar teknologi digunakan untuk dakwah dan kemaslahatan.
  2. Memperkuat karakter toleran dan moderat sebagai cerminan akhlak santri sejati.
  3. Membangun jejaring kolaboratif antar pesantren dan perguruan tinggi, untuk mengembangkan inovasi pendidikan berbasis AI.
  4. Menjalin kerjasama antara pesantren dan masyarakat lokal-global, mendorong santri untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang bermanfaat serta memperkuat hubungan antara pesantren dan masyarakat.
  5. Menjadi duta harmoni digital, yang menjaga ruang media sosial dari ujaran kebencian dan disinformasi.

Kehadiran Dosen yang sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah IAI Hasan Jufri Bawean dalam forum nasional ini mendapat apresiasi luas dari para peserta dan moderator. Mereka menilai bahwa gagasan beliau mampu menghubungkan pesantren, perguruan tinggi, dan teknologi digital dalam satu benang merah yang harmonis: membangun peradaban Islam yang moderat, inklusif, dan adaptif di tengah revolusi kecerdasan buatan.

Webinar ini diikuti oleh para dosen, santri, mahasiswa dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Melalui kontribusinya, Muwafiqus Shobri menegaskan kembali peran penting INHAFI Bawean dalam percaturan nasional sebagai pusat lahirnya intelektual santri yang berkarakter, berwawasan global, dan melek teknologi.

Bagikan Informasi Ini: